Monday, May 13, 2013

infeksi nosokomial


Infeksi Nosokomial
Infeksi adalah invasi tubuh oleh patogen atau mikroorganisme yang mampu menyebabkan sakit. Jika mikroorganisme gagal menyebabkan cedera yang serius terhadap sel atau jaringan, infeksi disebut dengan asimptomatik. Penyakit timbul jika patogen berbiak dan menyebabkan perubahan pada jaringan normal. Jika penyakit infeksi dapat ditularkan langsung dari satu orang ke orang lain, penyakit ini merupakan penyakit menular atau contagious (Potter and Perry, 2005).
Nosokomial berasal dari bahasa yunani, dari kata nosos yang artinya penyakit dan komeo yang artinya merawat. Nosokomion berarti tempat untuk merawat/rumah sakit. Jadi infeksi nosokomial dapat diartikan sebagai infeksi yang diperoleh atau terjadi di rumah sakit atau infeksi yang didapat oleh penderita ketika penderita dalam proses asuhan keperawatan (Darmadi,2008). Infeksi nosokomial adalah infeksi yang terjadi pada seseorang dalam waktu 3 X 24 jam sejak masuk rumah sakit (DepKes,2003).
Batasan infeksi nosokomial dalam hal ini menyangkut dua hal yaitu penderita yang sedang dalam proses asuhan keperawatan di rumah sakit dan adanya transmisi mikroba patogen ke penderita yang sedang dalam proses asuhan keperawatan. Manifestasi klinis dapat muncul saat penderita masih dalam proses asuhan keperawatan atau manifetasi klinis muncul setelah penderita pulang/keluar dari rumah sakit. Penularan infeksi tejadi tanpa adanya manifestasi klinis (asimptomatik), dan dalam hal ini perlu adanya penilaian laboratoruim (Darmadi,2008)
Cara-cara memutuskan rantai penularan dengan memperhatikan tiga unsur dari rantai penularan itu sendiri.
1)      Sumber penularan: dengan cara mengeliminasi, membuang, menjauhkan, atau memasang barier.
2)      Mekanisme transmisi: mengenal cara-cara penularan, media-media perantara, dan agen antimokrobal.
3)      Penjamu/calon penderita: memperpendek waktu pemaparan, memasang barier/isolasi (Darmadi,2008).


a)      Penyebaran infeksi
Mikroba patogen yang hidup dan berkembangbiak pada reservoir akan mencari reservoir baru, begitu seterusnya. Penyebaran mikroba patogen ke tubuh manusia melalui mekanisme penularan (mode of transmission). Dalam garis besar, mekanisme transmisi mikroba patogen ke penjamu yang rentan (susceptible host) melaui dua cara.
1)      Transmisi langsung (direct transmission)
Penularan langsung oleh mikroba ke pintu masuk yang sesuai dari penjamu. Sebagai contoh adalah adanya sentuhan, gigitan, ciuman, atau adanya droplet nuclei saat bersin, batuk, berbicara, atau saat transfusi darah dengan darah yang sudah terkontaminasi mikroba patogen.
2)      Transmisi tidak langsung (indirect transmission)
Penularan patogen memerlukan adanya media perantara baik berupa barang/bahan, udara, air, makanan/minuman, maupun vektor.
·         Vehicle borne
Sebagai media perantara penularan adalah barang/bahan yang terkontaminasi seperti peralatan makan dan minum, instrumen bedah, peralatan laboratorium, peralatan infuse/transfusi.
·         Vector borne
Sebagai perantara penularan adalah vektor (serangga), yang memindahkan mikroba patogen ke penjamu dengan cara sebagai berikut.
-          Cara mekanisme
Pada kaki serangga melekat kotoran atau sputum (mikroba patogen), lalu hinggap pada makanan/minuman, dimana selanjutnya akan masuk ke saluran cerna penjamu.
-          Cara biologis
Mikroba akan mengalami siklus perkembangbiakan dalam tubuh vektor/serangga, selanjutnya mikroba dipindahkan ke tubuh penjamu melalui gigitan.



·         Food borne
Makanan dan minuman menjadi perantara yang efektif untuk penyebaran mikroba ke penjamu, yaitu melalui pintu masuk (port d’entrĂ©e) saluran cerna.
·         Water borne
Kualitas air yang meliputi aspek fisik, kimiawi, dan bakteriologis. Diharapkan terbebas dari mikroba patogen sehingga aman dikonsumsi. Jika tidak air sangat mudah menyebarkan mikroba petogen ke pejamu melalui pintu masuk saluran cerna maupun pintu masuk yang lain.
·         Air borne
Udara yang terkontaminasi oleh mikroba patogen sangat sulit untuk dideteksi. Mikroba patogen dalam udara masuk ke saluran napas penjamu dalaam bentuk droplet nuclei yang dikeluarkan oleh penderita (reservoir) saat batuk atau bersin, bicara atau bernapas melalui mulut atau hidung. Sedangkan dust merupakan partikel yang dapat terbang bersama debu lantai/tanah. Penularan melalui udara umumnya mudah terjadi pada ruangan yang tertutup seperti di dalam gedung, ruangan/bangsal/kamar perawatan, atau pada laboratorium klinik (Darmadi,2008).

b)      Ciri-ciri infeksi nosokomial
Suatu infeksi dikatakan didapat dari rumah sakit apabila memilki cirri-ciri sebagai berikut:
1)      Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit tidak didapatkan tanda-tanda klinik dari infeksi tersebut.
2)      Pada waktu penderita mulai dirawat di rumah sakit, tidak sedang dalam masa inkubasi dari infeksi tersebut.
3)      Tanda-tanda klinik infeksi tersebut timbul sekurang-kurangya setelah 3x24 jam sejak mulai perawatan.
4)      Infeksi tersebut bukan merupakan sisa (residual) dari infeksi sebelumnya.
5)      Bila saat mulai dirawat di rumah sakit sudah ada tanda-tanda infeksi, dan terbukti infeksi tersebut didapat penderita ketika dirawat di rumah sakit yang sama pada waktu yang lalu, serta belum pernah dilaporkan sebagai infeksi nosokomial (Darmadi,2008).
Selain faktor dari luar, ada pula faktor-faktor lain yang berperan dalam penularan infeksi nosokomial yaiutu sebagai berikut:
1)      Faktor intrinsik (instrinsic factor) seperti umur, jenis kelamin, kondisi umum penderita, risiko terapi, atau adanya penyakit lain menyertai penyakit dasar beserta komplikasinya.
2)      Faktor lamanya hari perawatan (length of stay), menurunya standar pelayanan perawatan, serta padatnya penderita dalam satuu ruangan.
3)      Faktor mikroba patogen seperti tingkat kemampuan invasi serta tingkat kemampuan merusak jaringan.
Survey  sederhana (point prevelensi) yang di lakukan oleh Subdit Survey Directorat Jenderal Pemberantas Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan di sepuluh rumah sakit umum pendidikan tahun 1987, angka infeksi nosokomial cukup tinggi yaitu median 9,8% dengan range 6-16% (Depkes RI, 2001). Sedangkan prevelensi infeksi nosokomial menurut ruang perawatan bedah di salah satu rumah sakit swasta di DKI yang diteliti tersebut adalah sebagai berikut: bagian anak 4,0%, bagian neonatal 37,5%, bagian penyakit dalam 11,6%, bagian bedah 21,4%, dan bagian kebidanan 21,9%. Demikian pula survey yang di lakukan di rumah sakit Jakarta tahun 2000, terbatas pada ruang bedah dan secara khusus di lakukan pemeriksaan laboratorium pada sampel populasi ternyata infeksi nosokomial mencapai 20% (Depkes RI, 2001).
Infeksi pada dasarnya terjadi karena interaksi langsung maupun tidak langsung antara penderita (host) yang rentan mikroorganisme yang infeksius dan lingkungan sekitarnya (Environment). Faktor-faktor yang saling mempengaruhi dan saling berhubungan disebut rantai infeksi sebagai berikut :
1.      Adanya mikroorganisme (Agent) yang infeksius mikroba penyebab infeksi dapat berupa bakteri, virus, jamur maupun parasit. Penyebab utama infeksi nosokomial biasanya bakteri dan virus dan kadanga-kadang jamur dan jarang oleh parasit. Peranannya dalam infeksi nosokomial tergantung antara lain dari patogenesis atau virulensi dan jumlahnya.
2.      Adanya portal of exit/pintu keluar. Portal of exit mikroba dari manusia biasanya melalui satu tempat, meskipun dapat juga dari beberapa tempat. Portal of exit yang utama adalah saluran pernapasan, daluran cerna dan saluran urogenitalia.
3.      Adanya porta of entry / Pintu masuk Tempat masuknya kuman dapat melalui kulit, dinding mukosa, saluran cerna, saluran pernafasan dan saluran urogenitalia. Mikroba yang terinfesius dapat masuk ke saluran ceran melalui makanan atau minuman yang terkontaminasi seperti: E.coli, Shigella. Mikroba penyebab rubella dan toxoplasmosis dapat masuk ke host melalui placenta.
4.      Terdapatnya cara penularan. Penularan atau transmission adalah perpindahan mikroba dari source ke host. Penyebaran dapat melalui kontak, lewat udara dan vektor. Cara penularan yang paling sering terjadi pada infeksi nosokomial adalah dengan cara kontak. Pada cara ini terdapat kontak antara korban dengan sumber infeksi baik secara langsung, tidak langsung maupun secara droplet infection.
5.      Penderita (host) yang rentan. Masuknya kuman kedalam tubuh penderita tidak selalu menyebabkan infeksi. Respon penderita terhadap mikroba dapat hanya infeksi subklinis sampai yang terhebat yaitu infeksi berat yang dapat menyebabkan kematian. Yang memegang peranan sangat penting adalah mekanisme pertahanan tubuh hostnya. Mekanisme pertahana tubuh secara non spesifik antara lain adalah kulit, dinding mukosa dan sekret, kelenjar-kelenjar tubuh. Mekanisme pertahanan tubuh yang spesifik timbul secara alamia atau bantuan , secara alamia timbul karena pernah mendapat penyakit tertentu, seperti poliomyelitis atau rubella. Imunitas buatan dapat timbul secara aktif karena mendapat vaksin dan pasif karena pemberian imuneglobulin (Serum yang mengandung antibodi).
Lingkungan sangat mempengaruhi rantai infeksi sebagai contoh tindakan pembedahan di kamar operasi akan lebih kecil kemungkinan mendapatkan infeksi luka operasi dari pada dilakukan ditempat lain. Selain pembagian faktor-faktor diatas, infeksi nosokomial juga dipengaruhi oleh faktor eksogen dan endogen.
1.      Faktor endogen adalah faktor yang ada didalam tubuh penderita sendiri antara lain umur, jenis kelamin, daya tahan tubuh dan kondisi lokal.
2.      Faktor eksogen adalah faktor dari luar tubuh penderita berupa lamanya penderita dirawat, kelompok yang merawat, lingkungan, peralatan tehnis medis yang dilakukan dan adanya benda asing dalam tubuh penderita yang berhubungan dengan udara luar.
Kondisi-kondisi yang mempermudah terjadinya Infeksi nosokomial Infeksi nosokomial mudah terjadi karena adanya beberapa keadaan tertentu :
1.      Rumah sakit merupakan tempat berkumpulnya orang sakit/pasien, sehingga jumlah dan jenis kuman penyakit yang ada lebih penyakit dari pada ditempat lain.
2.      Pasien mempunyai daya tahan tubuh rendah, sehingga mudah tertular.
3.      Rumah sakit sering kali dilakukan tindakan invasif mulai dari sederhana misalnya suntukan sampai tindakan yang lebih besar, operasi. Dalam melakukan tindakan sering kali petugas kurang memperhatikan tindakan aseptik dan antiseptik.
4.      .Mikroorganisme yang ada cenderung lebih resisten terhadap antibiotik, akibat penggunaan berbagai macam antibiotik yang sering tidak rasional.
5.      Adanya kontak langsung antara pasien atau petugas dengan pasien, yang dapat menularkan kuman patogen.
6.      Penggunaan alat-alat kedokteran yang terkontaminasi dengan kuman
Sumber infeksi nosokomial dapat berasal dari pasien, petugas rumah sakit, pengunjung ataupun lingkungan rumah sakit. Selain itu setiap tindakan baik tindakan invasif maupun non invasif yang akan dilakukan pada pasien mempunyai resiko terhadap infeksi nosokomial. Adapun sumber infeksi tindakan invasif (operasi) adalah :
1.      Petugas
-          Tidak/kurang memahami cara-cara penularan
-          Tidak/kurang memperharikan kebersihan perorangan
-          Tidak menguasai cara mengerjaklan tindakan
-          Tidak memperhatikan/melaksanakan aseptik dan antiseptic
-          Tidak mematuhi SOP (standar operating procedure)
-          Menderita penyakit tertntu/infeksi/carier
2.      Alat
-          Kotor //Tidak steril
-          Rusak / karatan
-          Penyimpangan kurang baik
3.      Pasien
-          Persiapan diruang rawat kurang baik
-          Higiene pasien kurang baik
-          Keadaan gizi kurang baik (malnutrisi)
-          Sedang mendapat pengobatan imunosupresif
4.      Lingkungan
-          Penerangan/sinar matahari kurang cukup
-          Sirkulasi udara kurang baik
-          Kebersihan kurang (banyak serangga, kotor, air tergenang)
-          Terlalu banyak peralatan diruangan
-          Banyak petugas diruangan
Penyabab Infeksi nosokomial Mikroorganisme penyebab infeksi dapat berupa : bakteri, virus, fungi dan parasir, penyebab utamanya adalah bakteri dan virus, kadang-kadang jamur dan jarang disebabkan oleh parasit. Peranannya dalam menyebabkan infeksi nosokomial tergantung dari patogenesis atau virulensi dan jumlahnya. Patogenesis adalah kemampuan mikroba menyebabkan penyakit, patogenitas lebih jauh dapat dinyatakan dalam virulensi dan daya invasinya. Virulensi adalah pengukuran dari beratnya suatu penyakit dan dapat diketahui dengan melihat morbiditas dan derajat penularan, Daya invasi adalah kemampuan mikroba menyerang tubuh. Jumlah mikroba yang masuk sangat menentukan timbul atau tidaknya infeksi dan bervariasi antara satu mikroba dengan mikroba lain dan antara satu host dengan host yang lain. Yang perlu diperhatikan dalam pencegahan Infeksi nosokomial luka Operasi :
a.       Sebelum masuk rumah sakit
-          Pemerikasaan dengan pengobatan pasien untuk persiapan operasi agar dilakukan sebelum pasien masuk/dirawat di rumah sakit.
-          Perbaikan keadaan pasien, misalnya gizi, penyakit DM.
b.      Sebelum operasi Pasien operasi dilakukan dengan benar sesuai dengan prosedur, misalnya pasien harus puasa, desinfeksi daerah operasi, klimas dan lain-lain.
c.       Pada wantu operasi -Semua petugas harus mematuhi peraturan kamar operasi.
-          Bekerja sesuai SOP (standar operating procedur)
-          Perhatikan wantu/lama operasi.
d.      Paska operasi Perhatikan perawatan alat-alat Bantu yang terpasang sesudah operasi seperti : kateter, infus, dan lain-lain

Saturday, May 11, 2013

GANGGUAN PSIKOLOGIS PADA MASA NIFAS


BAB I
PENDAHULUAN
A.             LATAR BELAKANG
          Masa nifas akan menyebabkan terjadinya perubahan - perubahan pada organ reproduksi. Begitupun halnya dengan kondisi kejiwaan ( psikologis ibu, juga mengalami perubahan. Dari yang semula belum memiliki anak, kemudian lahirlah seorang bayi mungil nan lucu yang kini mendampingi ibu. Menjadi orang tua merupakan suatu krisis tersendiri dan ibu harus mampu melewati masa transisi. Secara psikologi, seorang ibu akan mengalami akan mengalami gejala - gejala psikiatrik setelah melahirkan. Beberapa penyesuaian dibutuhkan oleh oleh seorang wanita dalam dalam menghadapi aktivitas dan peran barunya sebagai ibu pada beberapa minggu atau bulan pertama setelah melahirkan baik dari segi fisik maupun fisik.  Sebagian wanita berhasil menyesuaikan diri dengan baik, tetapi ada sebagian lainnya yang tidak berhasil menyesuaikan diri dan mengalami gangguan – gangguan psikologis dengan berbagai gejala atau sindrom yang oleh yang oleh para peneliti dan klinisi disebut postpartum blues.
          Postpartum blues ini dikategorikan sebagai sindrom gangguan mental yang ringan. Oleh sebab itu, gangguan ini sering tidak dipedulikan bahkan sering dianggap efek samping dari keletihan, sehingga tidak terdiagnosis dan tidak tertangani sebagaimana harusnya. Akhirnya dapat menjadi masalah yang menyulitkan, tidak menyenangkan, dan dapat membuat perasaan – perasaan tidak nyaman bagi wanita yang mengalaminya, bahkan terkadang gangguan ini berkembang menjadi keadaan yang lebih berat yaitu depresi pascapersalinan, yang mempunyai dampak lebih buruk, terutama dalam masalah hubungan perkawinan dengan suami dan perkembangan anaknya. Padahal data dari penelitian di seluruh dunia secara tegas menunjukan bahwa sekitar 50 – 75% wanita mengalami postpartum blues.
B.    Rumusan masalah
1.    Apa yang dimaksud dengan nifas ?
2.    Gangguan psikologi yang terjadi pada masa nifas ?
3.    Bagaimana cara mengatasi gangguan psikologi pada masa nifas ?
C.    Tujuan penulisan
1.    Untuk mengetahui pengertian dari nifas
2.    Untuk mengetahui apa saja gangguan psikologi yang terjadi saat nifas
3.    Mengetahui cara mengatasi gangguan psikologi pada masa nifas  





 BAB II
PEMBAHASAN
A.   Pengertian Masa Nifas
Masa nifas adalah masa sejak selesainya persalinan hingga pulihnya alat-alat kandungan dan anggota badan serta psikososial yang berhubungan dengan kehamilan/persalinan selama 6 minggu.
B.     Respon Orangtua Terhadap Bayi Baru Lahir
Menjadi orangtua merupakan krisis tersendiri dan mereka harus dapat melewati masa transisi. Berikut adalah masa transisi pada postpartum yang harus diperhatikan oleh pasangan.
a.       Fase Honeymoon
Adalah fase setelah anak lahir dan terjadi kontak yang lama antara ibu, ayah, dan anak. Masa ini dapat dikatakan sebagai psikis honeymoon yang memerlukan hal – hal romantis, masing – masing saling memperhatikan anaknya dan menciptakan hubungan yang baru.
b.      Bounding Attachment
Bounding merupakan satu langkah awal unutk mengungkapkan perasaan afeksi ( kasih sayang ). Attachment merupakan interaksi antara ibu dan bayi secara spesifik sepanjang waktu. Bounding attachment adalah kontak awal antara ibu dan bayi setelah kelahiran, untuk memberikan kasih sayang  yang merupakan dasar interaksi antara keduanya secara terus – menerus. Dengan kasih sayang yang diberikan terhadap bayinya maka akan terbentuk ikatan antara orang tua dan bayinya.
Bounding attachment ini dimulai sejak dini bagitu bayi dilahirkan / pada kala IV. Bonding adalah suatu istilah untuk menerangkan hubungan antara ibu dan anak, sedangkan attachment adalah suatu keterikatan antara orang tua dan anak.
Dalam menjalani adaptasi setelah melahirkan, ibu akan mengalami fase-fase sebagai berikut :
a.       Fase taking in
Merupakan periode ketergantungan yang berlangsung pada hari pertama sampai hari kedua setelah melahirkan. Pada saat itu focus perhatian ibu terutama pada dirinya sendiri. Pengalaman selama proses persalinan sering berulang diceritakannya. Hal ini membuat cenderung ibu menjadi pasif terhadap lingkungannya.
b.      Fase taking hold
Periode yang berlangsung antara 3-10 hari setelah melahirkan. Pada fase ini ibu merasa khawatir akan ketidakmampuannya dan rasa tanggung jawabnya dalam merawat bayi. Pada fase ini ibu memerlukan dukungan karena saat ini merupakan kesempatan yang baik untuk menerima berbagai penyuluhan dalam merawat diri dan bayinya sehingga timbul percaya diri.
c.       Fase letting go
Menerima tanggung jawab akan peran barunya yang verlangsung sepuluh hari setelah melahirkan. Ibu sudah dapat menyesuaikan diri, merawat diri dan bayinya sudah meningkat. Ada kalanya, ibu mengalami perasaan sedih yang berkaitan dengan bayinya keadaan ini disebut baby blues.
C.     Gangguan Psikologis pada Masa Nifas
1.      Baby blues
a.       Pengertian
Gangguan efek ringan ( gelisah, cemas, lelah ) yang sering tampak dalam minggu pertama setelahh persalinan.
b.      Faktor Penyebab
1)      Faktor Hormonal
Berupa perubahan kadar estrogen, progesteron, prolaktin,dan estriol yang yang terlalu rendah.
2)      Faktor Usia.
3)      Pengalam dalam proses kehamilan dan persalinan.
4)      Adanya perasaan belum siap menghadapi lahirnya bayi.
5)       Latar belakang psikososial wanita yang bersangkutan, seperti tingkat pendidikan, status perkawinan, kehamilan yang tidak diinginkakan, riwayat gangguan kejiwaan sebelumnya, sosial ekonomi, serta keadekuatan dukungan sosial lingkungannya.
c.       Gejala
Reaksi depresi/sedih, menagis, mudah tersinggung atau iritabilitas, cemas, labil perasaan, cendrung menyalahkan diri sendiri,gangguan tidur dan gangguan nafsu makan.
d.      Pencegahan
1)      Beristirahat ketika bayi tidur
2)      Berolah raga ringan, ikhlas dan tulus dengan peran baru sebagai ibu
3)      Tidak perfeksionis dalam hal mengurusi bayi
4)      bicarakan rasa cemas dan komunikasikan
5)      bersikap fleksibel dan bergabung dengan kelompok ibu-ibu baru

D.    Depresi Post partum
1.    Pengertian
Depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari.
2.Faktor Penyebab
a.       Faktor konstitusional
Gangguan post partum berkaitan dengan riwayat obstetri yang meliputi riwayat hamil sampai bersalin, serta adanya komplikasi atau tidak dari kehamilan dan persalinan sebelumnya.
b.      Faktor fisik
Tetrjadi karena ketidakseimbangan hormonal, Hormon yang terkait dengan terjadinya depresi post partum adalah prolaktin, steroid dan progesterone.
c.       Faktor psikologi
Paraliahan yang cepat dari keadaan “ 2 dalam 1 “, pada akhir kehamilan menjadi dua individu. Yaitu ibu dan anak yang bergantung pada penyesuaian psikologis individu.
3.        Gejala
a.       Kelelahan dan perubahan mood
b.       Gangguan nafsu makan dan gangguan tidur
c.       Tidak mau berhubungan dengan orang lain
d.      Tidak mencintai bayinya dan ingin menyakiti bayinya atau dirinya sendiri.
4.Pencegahan
Untuk mencegah terjadinya depresi post partum sebagai anggota keluarga harus memberikan dukungan emosional kepada ibu dan jangan mengabaikan ibu bila terlihat  sedang sedih, dan sarankan pada ibu untuk beristirahat dengan baik, berolahraga yang ringan, berbagi cerita dengan orang lain, bersikap fleksible, bergabung dengan orang-oarang baru, sarankan untuk berkonsultasi dengan tenaga medis.

E.     Post Partum Psikosa
1.        Pengertian
Depresi yang paling berat, terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.
2.Faktor Penyebab
a.       Faktor sosial kultural (dukungan suami dan keluarga, kepercayaan atau etnik ).
b.      Faktor obstetrik dan ginekologik ( kondisi fisik ibu dan kondisi fisik bayi ).
c.       Karakter personal seperti harga diri yang rendah.
d.      Perubahan hormonal yang cepat.
e.       Marital disfungsion atau ketidak mampuan membina hubungan dengan orang lain yang mengakibatkan kurangnya dukungan.
f.       Unwanted pregnancy atau kehamilan tidak di inginkan
g.      Merasa terisolasi.
3.        Gejala
a.       Curiga berlebihan
b.      Kebingungan
c.       Sulit konsentrasi
d.      Bicara meracau atau inkoheren
e.       Pikiran obsesif ( pikiran yang menyimpang dan berulang-ulang )
f.       Impulsif ( bertindak diluar kesadaran )
4.        Pencegahan
a)      Pelajari diri sendiri
Pelajari dan mencari informasi mengenai depresi dan psikosa pospartum, sehingga ibu dan keluarga sadar terhadap kondisi ini. Apabila terjadi, maka akan segera mendapatkan penanganan yang tepat.
b)       Tidur dan makan yang cukup
Diet nutrisi penting untuk kesehatan, lakukan usaha yang terbaik dengan makan dan tidur yang cukup. Keduanya penting dalam periode pospartum.
c)      Olahraga
Merupakan kunci untuk mengurangi depresi postpartum, lakukan peregangan selama 15 menit dengan berjalan kaki setiap hari, sehingga membuat ibu menjadi lebih rileks dan lebih menguasai emosional yang berlebihan.
d)     Beritahukan perasaan ibu
Jangan takut untuk mengutarakan perasaan ibu dan mengekspresikan yang ibu inginkan dan butuhkan demi kenyamanan ibu. Jika mempunyai masalah, segera beritahukan kepada orang yang dipercaya ataupun orang yang terdekat.
e)      Dukungan dari keluarga dan orang-orang terdekat
Dukungan dari orang terdekat dari mulai kehamilan, persalinan dan pospartum sangat penting, yakinkan diri ibu bahwa keluarga selalu berada disamping ibu setiap ada kesulitan.
f)       Persiapan diri dengan baik
Persiapan sebelum persalinan sangat diperlukan, ikutlah kelas hamil, baca buku-buku yang dibutuhkan. 
g)      Lakukan pekerjaan rumah tangga
h)      Pekerjaan rumah tangga sedikit banyak dapat membantu ibu melupakan golakan perasaan yang terjadi selama periode pospartum. Kondisi anda yang belum stabil, bisa ibu curahka dengan memasak atau membersihkan rumah.
i)        Dukungan emosional
Minta dukungan emosional dari keluarga dan lingkungan sehingga ibu dapat mengatasi rasa frustasi atau stress. Ceritakan pada mereka mengenai perubahan yang ibu rasakan, sehingga ibu merasa lebih baik dari setelahnya.




BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
      Gangguan psikologi post partum diantaranya depresi post parum, post partum blues, dan post partum psikosa. Post Partum Blues (PBB) sering juga disebut sebagai maternity blues atau baby blues dimengerti sebagai suatu sindroma gangguan efek ringan yang sering tampak dalam minggu pertama setelahh persalinan.Depresi post partum adalah depresi berat yang terjadi 7 hari setelah melahirkan dan berlangsung selama 30 hari. Post partum psikosa dalah depresi yang terjadi pada minggu pertama dalam 6 minggu setelah melahirkan.
B.     Saran
      Bagi calon ibu diharapkan lebih mempersiapkan diri sebelum melahirkan agar persiapan diri baik mental, fisik dan ekonomi lebih matang. Supaya gangguan-gangguan pada masa nifas tidak terjadi.